Ahli Gizi Ingatkan Bahaya Stunting

Minggu, 04 November 2018, 08:36 WIB | Laporan: Sukardjito
Stunting atau kekerdilan pada anak-anak masih mengancam Indonesia. Jika tak ditangani dengan baik, hal ini dapat mengancam kualitas sumber daya manusia.

"Pada periode 1000 hari pertama kehidupan, tahap tumbuh-kembang yang sangat penting dalam menentukan sumber daya manusia di masa yang akan datang adalah pembentukan jaringan otak," kata Ahli gizi Marudut Sitompul, dalam keterangan tertulis kepada wartawan, Minggu (4/11).

Marudut menjelaskan, susu merupakan pangan yang kaya zat gizi yang dibutuhkan untuk melengkapi zat gizi yang diperoleh dari makanan. Berbagai zat gizi yang terdapat dalam segelas susu dapat memberi manfaat bagi manusia.

Selain itu, protein yang berkualitas baik diperlukan untuk membentuk protein otak. Susu dapat membantu memasok kebutuhan protein dan lemak yang dibutuhkan tubuh sehingga kebutuhan zat gizi tersebut dapat terpenuhi.

Selain sebagai sumber protein yang baik untuk tumbuh kembang anak, kandungan kalsium pada susu baik untuk pertumbuhan tulang.

"Pada masa kanak-kanak, susu dapat memasok energi untuk aktifitas sehari-hari serta protein dan kalsium untuk pertumbuhan yang optimal,” demikian Marudut.

Diketahui, Berdasarkan data Kementerian Kesehatan pada 2013, sebanyak 37 persen dari anak-anak berusia di bawah 5 tahun atau sekitar 9 juta anak Indonesia mengalami stunting. Populasi stunting terbesar terdapat di Nusa Tenggara Timur dan Papua Barat.

Maka itu, nutrisi menjadi salah satu faktor terpenting dalam mengatasi permasalahan kesehatan ini. Asupan gizi yang memadai menjadi keharusan bagi para ibu hamil. Jika tidak, hal ini berpotensi menyebabkan rendahnya kualitas kelahiran, termasuk bayi dengan berat badan rendah sehingga proses pertumbuhannya dapat terhambat.

Selanjutnya, para bayi yang baru lahir juga perlu dipastikan menerima asupan gizi yang baik. Dengan demikian, proses tumbuh dan kembang mereka selama golden age dapat optimal.

Pemerintah dan seluruh elemen masyarakat, perlu bekerja sama untuk menurunkan angka stunting. Sosialisasi asupan gizi yang cukup, termasuk pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama setelah bayi lahir, penting dilakukan. Selain itu, konsumsi susu atau produk susu sebagai makanan pelengkap bagi anak berusia di atas 1 tahun juga dapat menjadi salah satu alternatif.

Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 41 Tahun 2014 tentang Pedoman Gizi Seimbang, susu masuk ke dalam kelompok lauk-pauk sumber protein bersama ikan, telur, unggas, daging, dan kacang-kacangan serta olahannya (tahu dan tempe). [jto]
Editor: Sukardjito

Kolom Komentar