Kasus Pasien JKN Terlantar Akan Menumpuk Jika BPJS Tak Punya Inovasi

Kamis, 28 Maret 2019, 07:48 WIB | Laporan: Widya Victoria

Foto: Net

BPJS Kesehatan diminta melakukan inovasi untuk mengatasi berbagai persoalan, seperti penelantaran pasien peserta Jaminan Kesehatan nasional (JKN) di Rumah Sakit.

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar menegaskan, jika BPJS Kesehatan tidak melakukan inovasi maka kasus-kasus penelantaran dan pelayanan ala kadarnya akan terus terjadi dan menumpuk.

“Memang kasus-kasus akan terus terjadi, dan akan terus terjadi lagi, bila BPJS tidak berinovasi meningkatkan pelayanan kesehatan kepada pesserta JKN,” ujar Timboel Siregar di Jakarta.

Dia mengingatkan, harusnya dengan mengacu pada pasal 89 Perpres nomor 82 tahun 2018, diamanatkan adanya Unit Pengaduan di setiap rumah sakit yang menjadi mitra BPJS Kesehatan.

Unit Pengaduan tersebut, lanjut Timboel, bisa membantu pasien JKN mencarikan ruang perawatan yang dibutuhkan dengan memanfaatkan teknologi atau IT yang mumpuni.

“Pasien JKN tinggal datang ke unit pengaduan, lalu staf pengaduan mencarikan ruang perawatan yang dibutuhkan melalui IT yang terhubungkan ke seluruh rumah sakit mitra BPJS,” ujarnya.

Bila ada, maka tinggal diinfokan sehingga pasien tinggal dirujuk ke RS yang dimaksud. Unit Pengaduan ini harus aktif 7 x 24 jam.

Dengan melihat banyaknya persoalan-persoalan penelantaran pasien di RS dengan alasan tidak ada ruangan perawatan atau sedang penuh, BPJS Kesehatan tidak mampu memberikan solusi. Karena itu, kinerja BPJS Kesehatan layak segera dievaluasi.

"Presiden harus mengevaluasi kinerja direksi BPJS Kesehatan,” tutup Timboel.

Hal itu disampaikan Timboel Siregar melihat kejadian terbaru di Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat. Pada Selasa (26/3) lalu, seorang anak perempuan berusia enam tahun bernama Dumaris Natasya Simanungkalit tidak berdaya. Anak kecil yang merupakan peserta JKN ini dibiarkan menggantung di sana.

Dumaris Natasya yang mengalami kondisi kritis karena pecah pembuluh darah dan gagal ginjal itu tidak sadarkan diri. Meski sudah dirujuk dari RS UKI, Jakarta Timur untuk dibawa ke RCSM, di sini tidak memperoleh pelayanan yang memadai.

Daniel Simanungkalit, ayah dari Dumaris Natasya, kebingungan dikarenakan pihak RSCM beralasan tidak ada tempat di Intensif Care Unit (ICU) bagi anaknya. Dia sudah mengadu ke sejumlah pihak yang sekiranya bisa menolong kondisi anak perempuannya itu.

"Katanya semua ruangan full," tutur Gugun Simanungkalit, saudaranya Daniel Simanungkalit, yang tengah berkumpul menjaga dan membesuk Dumaris Natasya di RSCM, Rabu (27/3).

Dua hari bertahan tanpa bisa masuk ke ruang ICU, kemarin, semua selang dan infus harus dicopot dari badan Natasya, untuk segera masuk ke perawatan sangat intensif di ICU.

“Hingga hari ini, belum ada tempat bagi anak Natasya. Selalu alasannya full. Entahlah, ke mana lagi harus dibawa. Kami sangat khawatir, kondisi Natasya tidak bisa bertahan lama, sangat kristis. Jangan sampai dia lewat," ucap Gugun.

Namun pada malam harinya, keluarga menginformasikan bahwa Nathasya sudah dipindahkan ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto di daerah Senen, Jakpus.

"Tetapi masih tetap menunggu di ICU, belum di NICU,” ujarnya.

Kepala Cabang BPJS Kesehatan Jakarta Pusat Eddy Sulistijanto dikonfirmasi menyampaikan, diupayakan mencarikan RS yang representatif dan bisa menampung pasien JKN jika di RSCM ruangannya dinyatakan penuh.

“Iya, dari kemarin sudah coba dibantu. Kemarin itu ada ruangan NICU di RS lain yang kosong, tetapi tenaga spesialisnya tidak lengkap," ujar Eddy.

Kolom Komentar