Anggia Ermarini: HIV/AIDS Sudah Darurat, Semua Pihak Harus Jadi Duta Pengendali

Rabu, 05 Februari 2020, 20:25 WIB
Laporan: Angga Ulung Tranggana

Anggota Komisi IX DPR FPKB, Anggia Ermarini (berjilbab)/Repro

Seluruh elemen baik pemerintah, DPR dan kelompok sipil harus bergerak bersama dalam melakukan penanganan penyakit seperti human immunodeficiency virus (HIV)/ Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS), Tubercolosis (TB) dan malaria.

Demikian disampaikan anggota Komisi IX Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, Anggia Ermarini saat menjadi narasumber diskusi Di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, Rabu (5/2).

"Tantangan pengendalian HIV&AIDS, TB, dan Malaria cukup berat karena begitu mudahnya transmisi virus. Komitmen pemerintah, parlemen, lembaga donor, dan teman-teman civil society organization (CSO) sangat dibutuhkan," ujar Anggia, Jakarta (5/2).

Menurut Ketum PP Fatayat NU ini, banyak kepala daerah dan kepala dinas yang tidak menyadari dan belum paham pentingnya mengalokasikan pendanaan untuk sektor kesehatan.

"Padahal UU-nya sudah berbunyi alokasi 10 persen dari APBD. Jadi perjuangan kita semua di sektor kesehatan cukup berat, harus lobi sana-sini demi kebijakan pro-kesehatan," kata Anggia.

Anggia menyebutkan, pihaknya sangat terbuka dengan gagasan inovatif dari kalangan elemen sipil untuk mengurangi persebaran virus HIV, TB dan juga Malaria.

"Kami di parlemen sangat welcome dengan gagasan-gagasan inovatif dari teman-teman CSO agar intervensi terhadap AIDS, TB, dan Malaria makin nendang. Sudah cukup banyak pendanaan dikeluarkan, berbagai cara dilakukan, namun data menunjukkan ketiganya tidak berkurang. Capaian ARV malah hanya sekitar 17-20 persen," kata Anggia.

Terkait dengan populasi kunci orang dengan HIV/AIDS (ODHA), Anggia menyebut mereka sebagai mitra strategis. Kata Anggia, seluruh masyarakat harus mau merangkul mereka.

"Ketika kami melibatkan PGI, KWI, dan berbagai lembaga agama dalam Indonesia Interfaith Network on HIV&AIDS, justru tujuannya agar sebagai kelompok agama dapat merangkul ODHA. Bahkan para kiai NU dalam bahtsul masail mengatakan bahwa merespons HIV hukumnya wajib kifayah. Sebab HIV ini sudah darurat," ujar Anggia.

Terkait usulan Kaukus TB, Anggia mendorong semua pihak menjadi ambasador untuk mengampanyekan pengendalian AIDS, TB, Malaria.

Diskusi bertajuk "AIDS, TB, Malaria Program and Budget Policies towards Achieving 90-90-90, and Elimination of TB and Malaria by 2030 in Indonesia" dihadiri peserta dari perwakilan sejumlah Kedubes negara sahabat, Kemenkes, Yayasan Spiritia, komunitas pendampingan AIDS, TB, Malaria, NGO, dan perwakilan kampus.

Kolom Komentar


Video

NOORCA M. MASSARDI: Ketika Harta | Puisi Hari Ini

Senin, 10 Februari 2020
Video

[FULL] | Singgung Film Avengers: Endgame, Pidato Jokowi di Parlemen Australia

Senin, 10 Februari 2020
Video

30 Tahun MURI, Bakti Sosial ke Kampung Sumur

Selasa, 11 Februari 2020