Anggia Ermarini: HIV/AIDS Sudah Darurat, Semua Pihak Harus Jadi Duta Pengendali

Anggota Komisi IX DPR FPKB, Anggia Ermarini (berjilbab)/Repro

Seluruh elemen baik pemerintah, DPR dan kelompok sipil harus bergerak bersama dalam melakukan penanganan penyakit seperti human immunodeficiency virus (HIV)/ Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS), Tubercolosis (TB) dan malaria.

Demikian disampaikan anggota Komisi IX Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, Anggia Ermarini saat menjadi narasumber diskusi Di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, Rabu (5/2).

"Tantangan pengendalian HIV&AIDS, TB, dan Malaria cukup berat karena begitu mudahnya transmisi virus. Komitmen pemerintah, parlemen, lembaga donor, dan teman-teman civil society organization (CSO) sangat dibutuhkan," ujar Anggia, Jakarta (5/2).

Menurut Ketum PP Fatayat NU ini, banyak kepala daerah dan kepala dinas yang tidak menyadari dan belum paham pentingnya mengalokasikan pendanaan untuk sektor kesehatan.

"Padahal UU-nya sudah berbunyi alokasi 10 persen dari APBD. Jadi perjuangan kita semua di sektor kesehatan cukup berat, harus lobi sana-sini demi kebijakan pro-kesehatan," kata Anggia.

Anggia menyebutkan, pihaknya sangat terbuka dengan gagasan inovatif dari kalangan elemen sipil untuk mengurangi persebaran virus HIV, TB dan juga Malaria.

"Kami di parlemen sangat welcome dengan gagasan-gagasan inovatif dari teman-teman CSO agar intervensi terhadap AIDS, TB, dan Malaria makin nendang. Sudah cukup banyak pendanaan dikeluarkan, berbagai cara dilakukan, namun data menunjukkan ketiganya tidak berkurang. Capaian ARV malah hanya sekitar 17-20 persen," kata Anggia.

Terkait dengan populasi kunci orang dengan HIV/AIDS (ODHA), Anggia menyebut mereka sebagai mitra strategis. Kata Anggia, seluruh masyarakat harus mau merangkul mereka.

"Ketika kami melibatkan PGI, KWI, dan berbagai lembaga agama dalam Indonesia Interfaith Network on HIV&AIDS, justru tujuannya agar sebagai kelompok agama dapat merangkul ODHA. Bahkan para kiai NU dalam bahtsul masail mengatakan bahwa merespons HIV hukumnya wajib kifayah. Sebab HIV ini sudah darurat," ujar Anggia.

Terkait usulan Kaukus TB, Anggia mendorong semua pihak menjadi ambasador untuk mengampanyekan pengendalian AIDS, TB, Malaria.

Diskusi bertajuk "AIDS, TB, Malaria Program and Budget Policies towards Achieving 90-90-90, and Elimination of TB and Malaria by 2030 in Indonesia" dihadiri peserta dari perwakilan sejumlah Kedubes negara sahabat, Kemenkes, Yayasan Spiritia, komunitas pendampingan AIDS, TB, Malaria, NGO, dan perwakilan kampus.

Kolom Komentar


Video

Sebelum Mbak You, Arief Poyuono Sudah Ramalkan Kalabendu

Jumat, 15 Januari 2021
Video

BINCANG SEHAT • Memandang Pandemi Dari Kacamata Relawan

Jumat, 15 Januari 2021
Video

RMOL World View • Menjaga Gawang Pertahanan Indonesia

Senin, 18 Januari 2021

Artikel Lainnya

Ridwan Kamil: 4.070 Nakes Dan 69 Tokoh Di Jabar Sudah Divaksin
Kesehatan

Ridwan Kamil: 4.070 Nakes Da..

18 Januari 2021 21:42
70 Nakes Di Semarang Absen Saat Akan Divaksin Sinovac
Kesehatan

70 Nakes Di Semarang Absen S..

18 Januari 2021 21:12
Nekat Mandikan Jenazah Covid-19, Tiga Orang Ditetapkan Sebagai Tersangka
Kesehatan

Nekat Mandikan Jenazah Covid..

18 Januari 2021 19:21
Kasus Positif Melonjak Terus, Satgas Covid-19: 85-87 Kabupaten/Kota Belum Maksimal Terapkan Prokes
Kesehatan

Kasus Positif Melonjak Terus..

18 Januari 2021 19:11
Kasus Positif Melonjak Drastis Selama Dua Minggu, Kapasitas RSD Wisma Atlet Tersisa 20 Persen
Kesehatan

Kasus Positif Melonjak Drast..

18 Januari 2021 19:05
6 Pekan Beruntun, Karawang Dan Depok Selalu Masuk Zona Merah Covid-19
Kesehatan

6 Pekan Beruntun, Karawang D..

18 Januari 2021 17:09
Tambahan Kasus Positif Covid-19 Hari Ini Lebih Rendah Dari Kasus Sembuh, Ini Datanya
Kesehatan

Tambahan Kasus Positif Covid..

18 Januari 2021 16:25
Brasil Setujui Penggunaan Darurat Vaksin Sinovac
Kesehatan

Brasil Setujui Penggunaan Da..

18 Januari 2021 10:26