Kopi Timur Mobile
Farah.ID
Kopi Timur
Farah.ID

Begini Penjelasan Prof Zubairi Djoerban tentang Kematian Akibat Covid-19 Meroket

LAPORAN: DIKI TRIANTO
  • Jumat, 06 Agustus 2021, 09:53 WIB
Begini Penjelasan Prof Zubairi Djoerban tentang Kematian Akibat Covid-19 Meroket
Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 IDI, Prof Zubairi Djoerban/Ist
Kasus kematian di Indonesia akibat Covid-19 yang telah menyentuh lebih dari 100 ribu jiwa makin memunculkan kekhawatirkan di tengah masyarakat. Apalagi berdasarkan data Ikatan Dokter Indonesia (IDI), lebih dari 500 jiwa berasal dari dokter.

Menurut Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 IDI, Prof Zubairi Djoerban, kekhawatiran masyarakat tak bisa dipungkiri. Terlebih tidak ada yang memastikan bahwa kematian akibat Covid-19 bisa saja lebih tinggi dari data Satgas Covid-19.

"Apa yang membuat angka kematian begitu meroket ya? Kondisi kita dua bulan terakhir sebenarnya bisa menjawab pertanyaan itu," kata Prof Beri, sapaan Zubairi Djoerban dikutip dari akun Twitternya, Jumat (6/8).

Ia memaparkan, dalam dua bulan terakhir terjadi antrean panjang pasien Covid-19 hanya untuk mendapatkan tempat tidur di rumah sakit. Belum lagi masalah kekurangan pasokan oksigen yang dialami hampir di seluruh rumah sakit.

"Kemudian isoman (isolasi mandiri) yang kurang tertangani. Alhasil, 30 ribuan orang meninggal hanya pada bulan Juli saja," ungkap Prof Beri.

Faktanya, rumah sakit memang mengalami kekurangan oksigen dan terisi jauh melebihi kapasitas jumlah pasiennya. Sehingga makin sulit untuk merawat dengan intens, bahkan ada yang terpaksa menolak pasien karena penuh.

Di sisi lain, tenaga medis dan kesehatan juga kewalahan dalam menangani ledakan pasien Covid-19 di Indonesia. Berdasarkan laporan dari lapangan, Prof Beri mengungkap selama ini pasien dan pihak puskesmas kesulitan untuk menghubungi pihak rumah sakit.

"Mereka coba menghubungi hotline namun tidak ada yang angkat. Akibatnya, ambulans dari puskesmas tidak bisa jalan ke rumah sakit. Pasien pun tidak tertangani dan akhirnya meninggal," jelasnya.

Hal lain yang patut menjadi sorotan adalah keberadaan laboratorium yang menjadi tempat tes antigen dan PCR. Sejauh ini, laboratorium sudah tersebar di berbagai daerah namun belum diberdayakan secara maksimal.

"Harusnya mereka itu punya kewajiban untuk memberikan konsultasi dan merujuk pasien ke puskesmas atau rumah sakit. Bukan cuma setelah hasil tes diberikan, disudahi begitu saja," kritiknya.

Belum lagi masalah isoman. Sepanjang penanganan, banyak orang yang melakukan isolasi mandiri namun tidak dibekali dengan pengetahuan yang cukup terkait dengan Covid-19.

"Isoman sebenarnya memerlukan konsultasi dengan dokter. Alhamdulillahnya, di beberapa daerah, mereka sudah melakukan telemedicine untuk pasien isoman," tutup Prof Beri.
EDITOR: DIKI TRIANTO

ARTIKEL LAINNYA